Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah
Lihat Foto

People Power: The Philippine Revolution of 1986: An eyewitness history (1986 ) karya Monina Allarey Mercado

People Power di Filipina

KOMPAS.com - Revolusi tak selalu identik dengan kekerasan dan peperangan. Dalam revolusi terdapat istilah People Power atau kekuatan rakyat.

People Power adalah penggulingan kekuasaan presiden atau pemerintah secara damai melalui demonstrasi rakyat. Dalam sejarah revolusi dunia, People Power pernah terjadi di Jerman, Georgia, Cekoslovakia, Filipina, dan beberapa negara Timur Tengah.

Latar belakang

Pada periode 1965-1986, pemerintahan Filipina dipimpin oleh presiden Ferdinand Marcos. Pada masa pemerintahannya, FIlipina mengalami krisis ekonomi dan politik.

Krisis ekonomi dan politik di Filipina menumbuhkan gelombang perlawanan dari masyarakat dan golongan oposisi.

Baca juga: Sejarah Terjadinya Konflik di Suriah

Dalam buku Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer (2013) karya M.C Ricklefs dkk, berikut latar belakang gerakan People Power di Filipina:

  • Rezim Ferdinand Marcos memimpin secara diktator dan kerap melakukan tindakan represif terhadap aktivis dan golongan oposisi.
  • Utang Filipina yang mencapai 25.000.000.000 dollar AS pada tahun 1983.
  • Pembunuhan terhadap mantan senator Benigno Aquino Jr pada 21 Agustus 1983.
  • Adanya indikasi kecurangan pada Pemilu 1986 yang dilakukan oleh Ferdinand Marcos.

Kronologi

Pada 21 Agustus 1983, terjadi pembunuhan terhadap Benigno Aquino Jr yang merupakan pemimpin golongan oposisi Filipina. Benigno ditembak saat kembali dari pengasingannya di Amerika Serikat.

Dalam buku Krisis Filiphina: Zaman Marcos dan Keruntuhannya (1988) karya John Bresnan, peristiwa penembakan Benigno Aquino Jr membangkitkan perlawanan golongan oposisi di seluruh pelosok negeri. Bahkan, sebagaian sekutu pemerintahan berbalik untuk melawan Ferdinand Marcos.

Pada tahun 1986, Ferdinand Marcos yang disudutkan oleh krisis ekonomi dan politik dalam negeri meminta pengadaan pemilu presiden secepat mungkin.

Baca juga: Sejarah Krisis Yaman (1992)

Golongan oposisi dan masyarakat anti Ferdinand Marcos menyatukan kekuatan untuk memenangkan Corazon Aquino dalam pemilu ini.

Pada pemilu 1986, Ferdinand Marcos melakukan intimidasi dan kecurangan terhadap suara masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan kemarahan golongan oposisi dan rakyat Filipina.

Mereka menganggap bahwa Ferdinand Marcos telah melakukan penghianatan terhadap demokrasi dan kemanusiaan di Filipina.

Pada 22-25 Februari 1986, masyarakat Filipina melakukan aksi demonstrasi besar-besaran untuk menolak hasil pemilu.

Demonstran berkumpul di Epifanio de los Santos Avenue (EDSA) yang merupakan pusat politik di Filipina. Demonstrasi yang berlangsung secara damai ini pada akhirnya mampu menggulingkan rezim Ferdinand Marcos.

Baca juga: Sejarah Konflik Palestina dan Israel

Pada 25 Februari 1986, Cory Aquino dan para pendukungnya mengumumkan berakhirnya kediktatoran di Filipina dan gerakan People Power tanpa pertumpahan darah telah menang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

PEOPLE POWER DI FILIPINA.pptx - PEOPLE POWER DI FILIPINA KELOMPOK 2 1. DHIYANG ARIASHITA 2. DIAH AYU FATMAWATI 3. DIMAS ADI PANGESTU 4. DIMAS ABI

This preview shows page 1 - 4 out of 10 pages.

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

Artikel ini membahas tentang sejarah lahirnya revolusi EDSA, sebuah gerakan yang dinamakan people power di Filipina. Diceritahan juga bagaimana jatuhnya rezim pemerintahan Ferdinand Marcos. 

--

Hari itu, 21 Agustus 1983 tepat di bandara Filipina, seorang politisi dan senator turun dari pesawatnya. Dia adalah Benigno “Ninoy” Aquino, Jr, sang senator pro demokrasi yang telah kembali dari pengobatan penyakit jantungnya selama 3 tahun di Amerika Serikat. Tentu saja ini kabar yang menyenangkan bagi masyarakat Filipina, khususnya keluarga Benigno.

Namun, belum sempat ia berjumpa dengan keluarga apalagi para pendukungnya, Benigno harus tergeletak tak berdaya akibat sebuah selongsong peluru tajam yang tepat mendarat di kepalanya. Benigno Aquino resmi dinyatakan tewas. Suasanya penyambutan berubah menjadi haru. Publik Filipina kehilangan sosok pejuang demokrasi mereka.

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

 Benigno Aquino Jr, Senator pro demokrasi Filipina. Sumber: findagrave.com

Kecintaan masyarakat Filipina terhadap Benigno terlihat dari bagaimana mereka mengiringi jasad Benigno sampai ke pemakanan. Sedikitnya dua juta manusia hadir dalam pemakaman sang senator pro demokrasi. Masyarakat yang hadir terus meneriaki slogan ‘Justice for Aquino, Justice for All’.

Benigno dikenal sebagai sosok yang tegas, berani, dan konsisten dalam mengkritik serta mengecam kediktatoran Presiden Ferdinand Marcos. Setelah kematian Benigno, masyarakat Filipina mulai marah kepada pemerintahan Ferdinand Marcos, karena dari berbagai bukti yang ditemukan, Presiden Marcos lah dalang dibalik pembunuhan Benigno Aquino.

Lahirnya Rezim Ferdinand Marcos

Siapa sebenarnya Ferdinand Marcos ini? Kenapa ia begitu dibenci oleh masyarakat Filipina? Memangnya apa yang telah ia perbuat selama pemerintahannya berkuasa?

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

Ferdinand Edralin Marcos, Presiden ke 10 Filipina. Sumber:sites.google.com

Ferdinand Edralin Marcos adalah presiden ke sepuluh Filipina dan sebagai presiden pertama yang terpilih menjabat selama dua periode berturut-turut. Ia mengawali karirnya sebagai presiden Filipina yaitu pada 30 Desember 1965. Tidak ada hal yang buruk pada periode pertama kepemimpinannya sebagai presiden. Mulai tumbuh pembangunan infrastruktur, kebijakan-kebijakan luar negeri yang aman, dan juga keuangan pemerintahan yang cukup stabil.

Karena pencapaian yang cukup baik dalam masa kepemimpinan periode pertama, akhirnya pada pemilihan umum selanjutnya Ferdinand Marcos kembali terpilih menjadi Presiden Filipina. Marcos mulai memimpin untuk yang kedua kalinya. Namun dengan terpilihnya Marcos kembali, justru membawa dampak buruk bagi rakyat Filipina.

Munculnya Revolusi EDSA

Kemenangan Marcos di pemilu tahun 1969 ternyata tidak lepas dari perilaku-perilaku curang. Pemilu yang digelar dinilai terlalu banyak memakan anggaran, karena Marcos melakukan kecurangan dengan membeli suara. Bukan cuma itu, tindakannya yang dinilai melakukan penyalahgunaan wewenang dalam keuangan negara, menyebabkan Filipina terdampak inflasi dan devaluasi yang tinggi.

Mulailah Presiden Marcos mendapat kritik keras dari berbagai aktivis. Karena selain melakukan kecurangan saat pemilu, pemerintahan Marcos dinilai melakukan korupsi, nepotisme, dan juga suap. Nah mulai dari situ lah Squad kepercayaan masyarakat berkurang. Kondisi masyarakat dan pemerintahan mulai tidak menentu.

Karena keadaan tersebut, pada tahun 1972 Marcos mengumumkan Hukum Darurat Militer. Nah di sinilah Squad, titik awal munculnya bibit gerakan people power atau revolusi EDSA (Epifano de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila). Revolusi EDSA merupakan gerakan demonstrasi yang dilakukan secara damai oleh jutaan masyarakat Filipina dalam menumbangkan rezim Ferdinand Marcos. Tidak ada kerusuhan dalam revolusi EDSA, massa melakukan dengan ceria dan begitu bergelora.

Munculnya revolusi EDSA merupakan respon atas diberlakukannya Hukum Darurat Militer yang menyebabkan hak berekspresi dan juga berpendapat menjadi terbatas. Media massa tidak boleh ada satupun yang mengkritik, jika ketahuan langsung deh ditutup oleh pemerintah. Pokoknya semua harus sesuai dengan apa yang diinginankan Marcos, siapapun yang menentang, langsung deh ditangkep dan dipenjara. 

Baca juga: Sejarah Runtuhnya Vietnam Selatan dan Bersatunya Vietnam

Selama Sembilan tahun Hukum Darurat Militer tersebut berlaku, banyak masyarakat yang terus menderita. Hingga pada saat kepulangan Benigno Aquino ke Filipina, masyarakat memiliki secercah harapan. Namun, harapan itu hancur dan berubah menjadi kemarahan setelah Benigno dibunuh oleh pemerintahan Marcos.

Aksi demonstrasi di sepanjang jalan EDSA terus dilakukan bahkan saat proses pemakaman Benigno. Setelah pemakaman, demonstrasi terus dilakukan secara besar-besaran menentang Presiden Marcos. Kemudian, saat aksi besar-besaran muncullah nama Corazon Aquino yang siap menjadi oposisi. Corazon terus mengecam dan menuntut keadilan atas penculikan dan pembunuhan terhadap politisi-politisi oposisi. Seorang wanita pemberani ini adalah istri dari mendiang Benigno Aquino.

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

 Corazon Aquino, istri Benigno Aquino sekaligus penantang politik Ferdinand Marcos. Sumber: britannica.com

Situasi terus memburuk, masyarakat terus mengecam tindakan-tindakan Presiden Marcos, serta menuntut keadilan bagi orang-orang yang ditahan dan dibunuh. Karena kondisi itu, Marcos memutuskan untuk mengadakan pemilihan presiden pada Februari 1986. Kali ini yang dihadapi oleh Marcos adalah Corazon, seorang wanita pemberani yang didukung oleh banyak pihak.

Lalu siapakah pemenangnya? Jawabannya adalah Ferdinand Marcos, ia kembali memenangkan pemilihan presiden. Akan tetapi, ada yang janggal dalam kemenangannya nih Squad. Marcos telah mengganti 30 anggota KPU dengan orang-orang suruhannya pada saat proses penghitungan suara, kemudian ia juga menghilangkan hak pilih sebagian masyarakat, dan yang paling parah lagi sampai membunuh Gubernur Evelio Javier, seorang pendukung atau sekutu utama Corazon Aquino.

Serangkaian kecurangan dan kekejaman yang dilakukan oleh Marcos, menimbulkan kemarahan yang besar di masyarakat. Berbagai pihak mulai menyerukan tuntutannya agar Ferdinand Marcos melepas jabatannya sebagai Presiden.

Corazon Aquino menjadi yang paling vocal menyerukan aksi demonstrasi menuntut turunnya pelepasan jabatan Marcos. Corazon mendapat dukungan dari seorang pastor Gereja katolik Filipina yang bernama Kardinal Jaime Sin. Kardinal Sin menyerukan seluruh umatnya untuk mendukung Corazon dengan ikut turun ke jalan EDSA dan membantunya menghentikan kezaliman Presiden Marcos.

Bahkan bukan hanya seorang pastor, Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrille, tentara-tentara pemerintahan Marcos, juga Wakil Staf AB Jenderal Fidel Ramos turut mendukung Corazon Aquino. Akhirnya, jutaan orang dalam gerakan people power atau aksi damai tak berdarah itu menjadi salah satu rangkaian revolusi EDSA yang berhasil menurunkan Ferdinand Marcos dari jabatan Presiden Filipina, tepat pada 25 Februari 1986. Ferdinand kemudian pergi mengungsi bersama keluarga dan sekutunya ke Hawai, Amerika Serikat.

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

Nah Squad, sejak saat itulah kehidupan masyarakat Filipina berubah. Setiap individu dan kelompok kembali mendapatkan haknya sebagai warga negara yang bebas berekspresi, dan juga berpendapat. Semua perubahan itu berkat gerakan damai people power atau bisa juga dikatakan sebagai revolusi EDSA. Dan Corazon Aquino menjadi presiden perempuan pertama di Filipina, dengan menggantikan posisi Ferdinand Marcos yang telah dilengserkan.

Gimana Squad? Seru banget ya. Kalau kamu masih bingung dengan materi Sejarah lainnya, kamu bisa nih  belajar lewat video animasi yang tentunya menarik dan nggak membosankan. Itu semua bisa kamu akses di ruangbelajar. Jadiii, jangan lupa berlangganan yaa.

Tokoh yang mendapat kritikan keras karena melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden adalah

Referensi:

Hapsari, R. (2018) Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XII Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sumber foto:

Foto Benigno Aquino Jr, Senator pro demokrasi Filipina [Daring]. Tautan: https://www.findagrave.com/memorial/8260401/benigno-aquino (Diakses: 27 Oktober 2020)

Foto Ferdinand Edralin Marcos, Presiden ke 10 Filipina [Daring]. Tautan: https://sites.google.com/site/themarcoshistory/story (Diakses: 27 Oktober 2020)

Foto Corazon Aquino, istri Benigno Aquino sekaligus penantang politik Ferdinand Marcos. [Daring]. Tautan:https://www.britannica.com/biography/Corazon-Aquino (Diakses: 27 Oktober  2020)

Artikel terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2020