Untuk mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh banjir bangunan ka bah ditinggikan oleh

Untuk mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh banjir bangunan ka bah ditinggikan oleh

Ilustrasi Ka'bah (nytimes.com) Ilustrasi Ka'bah (nytimes.com)

Ka’bah adalah bangunan berbentuk kubus yang menjadi pusat ibadah bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Ia menjadi bangunan pertama yang didirikan atas nama Allah, untuk menyembah dan menyesakan-Nya. Maka Ka’bah kemudian dikenal dengan sebutan baitullah (rumah Allah) di bumi ini. 


Orang yang pertama kali mendirikan Ka’bah adalah Nabi Ibrahim as. Dibantu anaknya, Nabi Ismail as., Nabi Ibrahim as. mulai membangun Ka’bah sesuai dengan dengan perintah Allah. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 127: “Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal kami). Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 


Adapun bahan bangunan Ka’bah pada saat itu didatangkan dari lima gunung, yaitu gunung Thursina (gunung Sinai), Thurzita, Libnan, Judi, dan gunung Nur. Proses akhir pembangunan Ka’bah ditandai dengan peletakan Hajar Aswad di pojok tenggara Ka’bah. 


Seiring dengan berjalannya waktu, Ka’bah beberapa kali ditimpa bencana –seperti banjir dan kebakaran- hingga menyebabkan bangunan dan dindingnya rusak dan bahkan hancur. Setelah itu juga, Ka’bah dibangun kembali. Merujuk buku The Great Episodes of Muhammad saw. (Dr. Said Ramadhan al-Buthy, 2017), para ulama sepakat bahwa Ka’bah telah mengalami pembangunan atau rehabilitasi sebanyak empat kali.


Pertama, pembangunan Ka’bah dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sesuai dengan QS al-Baqarah di atas, Nabi Ibrahim membangun Ka’bah atas perintah Allah. Ketika itu, Nabi Ibrahim meninggikan bangunan Ka’bah hingga 7 hasta, dengan panjang 30 hasta, dan lebar 22 hasta. Sementara pendapat lain menyebutkan kalau tinggi Ka’bah adalah 9 hasta. Saat itu, Ka’bah belum dilengkapi dengan atap.


Kedua, pembangunan Ka’bah dikerjakan kaum Quraisy. Beberapa tahun sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi, banjir bandang menerjang Makkah hingga menyebabkan sebagian dinding Ka’bah roboh. Kaum Quraisy kemudian membangun kembali Ka’bah yang rusak itu. Nabi Muhammad yang saat itu diperkirakan berusia 35 tahun juga ikut serta dalam pembangunan Ka'bah. Beliau mengangkut batu di atas pundaknya dengan beralaskan selembar kain. Ia bahkan sempat tersungkur ketika membawa batu-batu itu.


Ketika pembangunan selesai, suku-suku berselisih untuk menentukan suku mana yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempat asalnya. Nabi Muhammad mengusulkan agar Hajar Aswad ditaruh di atas selembar kain, sementara perwakilan dari suku-suku yang berselisih itu masing-masing memegang ujung kain untuk kemudian mengarahkan batu hitam itu ke tempatnya semula. Semua sepakat dengan usul Nabi Muhammad itu. 


Pada pembangunan kedua ini, Ka’bah ditinggikan hingga 18 hasta, namun panjangnya dikurangi menjadi sekitar 6,5 hasta (dari sebelumnya 30 hasta), mereka biarkan dalam area Hijir Ismail. Sebetulnya Nabi Muhammad ‘tidak sepakat’ dengan pembangunan Ka’bah yang dilakukan kaum Quraisy tersebut, karena mengubah posisi Ka’bah sebagaimana ketika dibangun Nabi Ibrahim. Namun Nabi Muhammad memilih untuk menahan ‘egonya’ atas kebenaran sejarah, dengan mendahulukan kepentingan masyarakat secara luas.


“Wahai Aisyah, jika bukan karena kaummu baru saja meninggalkan  jahiliyah, tentu mereka sudah kuperintahkan untuk menghancurkan Ka’bah agar kumasukkan ke dalamnya apa yang dikeluarkan darinya, kutempelkan (pintunya) ke tanah, kubuatkan baginya satu pintu di timur dan satu pintu di barat, dan aku akan menghubungkannya dengan dasar-dasar yang dibangun Ibrahim,” kata Nabi Muhammad kepada Sayyidah Aisyah mengenai pembangunan Ka’bah yang dilakukan kaum Quraisy itu. 


Ketiga, pembangunan Ka’bah pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah. Pada akhir tahun ke-36 H, pasukan Yazid bin Muawiyah di bawah komando al-Hushain bin Numair as-Sakuni menyerbu Abdullah bin Zubair dan pengikutnya di Makkah. Peperangan itu menyebabkan sebagian besar dinding Ka’bah roboh dan terbakar. 


Abdullah bin Zubair meminta saran kepada yang lainnya terkait dengan pembangunan Ka’bah, apakah dibangun bagian-bagian yang rusak saja atau diratakan semuanya baru kemudian dibangun kembali. Setelah menerima beberapa usulan, Abdullah bin Zubair akhir meratakan Ka’bah dengan tanah. Ia kemudian membangun tiang-tiang di sekelilingnya dan menutupinya dengan tirai.


Abdullah bin Zubair menambah bangunan Ka’bah 6 hasta, dari yang dulu dikurangi kaum Quraisy. Ia juga menambah tinginya 10 hasta dan membuat dua pintu; satu pintu untuk masuk dan satunya lagi untuk keluar. Dia berani melakukan ini, merombak bentuk dan pososo Ka’bah, karena mengikuti hadits Nabi Muhammad di atas.

Keempat, pembangunan Ka’bah dilakukan setelah Abdullah bin Zubari wafat. Setelah Abdullah bin Zubari terbunuh, al-Hajjaj melaporkan kepada Khalifah Dinasti Umayyah saat itu, Malik bin Marwan, bahwa Ibnu Zubair telah mendirikan pondasi Ka’bah yang diperselisihkan oleh para pemuka Makkah. 


“Kalau tinggi bangunan yang dia (Abdullah bin Zubair), biarkah saja. Namun, panjang bangunan itu yang meliputi Hijir Ismail, kembalikanlah seperti semula. Dan tutuplah pintu yang dia buka,” perintah Malik bin Marwan kepada al-Hajjaj. Al-Hajjaj kemudian meratakan dan membangun kembali Ka’bah seperti sebelum Abdullah bin Zubair mengubahnya. 


Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan Ka’bah dilakukan sebanyak lima kali. Pembangunan pertama dikerjakan oleh Nabi Adam as. Pendapat ini didasarkan pada riwayat al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar. Di situ disebutkan bahwa Nabi Adam diperintahkan Allah untuk membangun rumah bagi-Nya. Akan tetapi, riwayat ini dhaif karena salah satu rawinya, Ibnu Luha’iah adalah perawi yang dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah. Pendapat lain menyebut kalau orang yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Nabi Syits as. Namun, lagi-lagi riwayat ini dhaif. Waallahu ‘Alam (Muchlishon) 

Kisah-Kisah Nabi Isa

Ka'bah (bahasa Arab: الكعبة, translit. al-Ka‘bah, har. 'kubus'‎; IPA: [alˈkaʕba]), juga merujuk pada Al Ka'bah Al Musyarrafah (Ka'bah Yang Suci), adalah sebuah bangunan di tengah-tengah masjid paling suci dalam agama Islam, Masjidil Haram, di Mekkah, Hejaz, Arab Saudi. Tempat ini adalah tempat yang paling disucikan dalam agama Islam.[1] Ka'bah dianggap "Rumah Allah" dan mirip selayaknya Bait Suci dalam keyakinan Yudaisme. Muslim dari seluruh dunia menghadap Ka'bah sebagai titik ketika melaksanakan salat (sembahyang). Perintah salat menghadap ke Ka'bah dikenal dengan nama kiblat.

Untuk mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh banjir bangunan ka bah ditinggikan oleh
Kaaba (Ka'aba)الكعبة

Ka'bah di Masjidil Haram

Informasi umumLetakHaram, Mekkah, Hejaz, Arab SaudiKoordinat geografi21°25′21″N 39°49′34″E / 21.4225°N 39.8262°E / 21.4225; 39.8262Koordinat: 21°25′21″N 39°49′34″E / 21.4225°N 39.8262°E / 21.4225; 39.8262Afiliasi agamaIslamTinggi (maks)131 m (430 ft)

Bangunan suci sekitar Ka'bah dikenal sebagai Masjid al-Haram (translasi langsung:masjid terlarang; secara harfiah: masjid yg disucikan).[2]

Salah satu dari Rukun Islam mewajibkan bagi setiap Muslim yang mampu untuk menunaikan ibadah haji satu kali seumur hidup. Bagian-bagian ritual haji yang mengharuskan tawaf, berputar tujuh kali mengelilingi Ka'bah dengan melawan arah jarum jam. Tawaf juga dilakukam oleh jamaah saat melaksanakan umrah (haji kecil).[1] Namun, kebanyakan waktu ramai di Ka'bah adalah saat musim haji, ketika jutaan jamaah bersama-sama mengelilingi bangunan dengan sebuah periode dalam lima hari.[3][4] Pada 2013, jamaah haji yang datang dari luar Kerajaan Arab Saudi untuk melaksanakan haji secara resmi dilaporkan sebanyak 1,379,531.[5] Pada 2014, Arab Saudi melaporkan membuka izin untuk 1,389,053 jamaah haji internasional dan 63,375 untuk penduduk (dari Arab Saudi)[6]

Untuk mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh banjir bangunan ka bah ditinggikan oleh

Ka'bah.

Bangunan Ka'bah beberapa kali disebutkan dalam Alquran dan Hadits, seperti Bait (Rumah), Bait ul Haram (Rumah Suci), Bait Ullah (Rumah Allah), Bait al-Ateeq (Rumah Tua), dan Awal ul Bait (Rumah pertama). Kata bahasa Arab Bait juga disamakan dalam bahasa Ibrani Bait, juga berarti "Rumah". (Kata Ibrani "Beit" berarti "Rumah-", dalam penggunaannya seperti Beit HaMikdash (Rumah suci) dan Beit El/Bethel (Rumah Tuhan).). Kata bahasa Arab Ka'bah berarti persegi atau kubus.[7][8] Alquran juga menyebut Bait al-Ma'mur,[Qur'an At-Tur:4] Rumah Allah di Surga dan Ka'bah dibawahnya, disebut dalam Hadits para Malaikat melakukan Tawaf dan Salat.[9][10]

 

Foto Ka'bah dan Masjidil Haram.

Isyarat pembangunan Ka'bah disebutkan dalam Al-Qur'an pada Surah Ali Imran ayat ke-96. Ayat ini menjelaskan bahwa Ka'bah dibangun di Bakkah (Makkah) untuk umat manusia sebagai tempat ibadah yang pertama. Ayat ini memberikan keterangan bahwa Ka'bah pertama kali dibangun oleh makhluk lain selain manusia. Pernyataan pembangunan Ka'bah untuk manusia juga mengisyaratkan bahwa Ka'bah telah dibangun sebelum adanya umat manusia. Dalam artian bahwa Ka'bah telah dibangun sebelum keberadaan Nabi Adam di Bumi. Beberapa pendapat menganggap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang membangun Ka'bah. Hal ini dianggap keliru, karena di dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa keduanya hanya bertugas meninggikan bangunan Ka'bah. Ayatnya yaitu Surah Al-Baqarah ayat ke-121. Ayat tersebut menyatakan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail hanya meninggikan pondasi Ka'bah.[11]

Ka'bah yang juga dinamakan Bayt al `Atiq (Arab: بيت العتيق, Rumah Tua) adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, surah 14:37 tersirat bahwa situs suci Ka'bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut.[butuh rujukan]

Pada masa Nabi Muhammad ﷺ berusia 30 tahun (sekitar 600 M dan belum diangkat menjadi rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad pada salah satu sudut Ka'bah, namun berkat penyelesaian Muhammad ﷺ perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.[butuh rujukan]

Pada saat menjelang Muhammad ﷺ diangkat menjadi nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, bangunan Ka'bah yang semula rumah ibadah agama monotheisme (tauhid) ajaran Nabi Ibrahim telah berubah menjadi kuil pemujaan bangsa Arab yang di dalamnya diletakkan sekitar 360 berhala/patung yang merupakan perwujudan tuhan-tuhan politheisme bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi, Allah Sang Maha Pencipta tidak boleh dipersekutukan dan disembah bersamaan dengan benda atau makhluk apapun juga dan tidak memiliki perantara untuk menyembahNya serta tunggal tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan tidak diperanakkan (Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur'an). Ka'bah akhirnya dibersihkan dari patung-patung agama politheisme ketika Nabi Muhammad membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah dan dikembalikan sebagai rumah ibadah agama tauhid (Islam).[butuh rujukan]

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Syaibah sebagai pemegang kunci Ka'bah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.[butuh rujukan]

 

Gambar ruang bangun disertai rincian ukuran Ka'bah.

Bangunan Ka'bah pada masa hidup Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terdiri atas dua pintu. Letak kedua pintunya berada di permukaan tanah.[12] Letak pintunya tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Pada saat Muhammad ﷺ berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi rasul, dilakukan renovasi pada Ka'bah akibat bencana banjir. Pada saat itu terjadi kekurangan biaya,[butuh rujukan] maka bangunan Ka'bah dibuat hanya satu pintu. Adapula bagiannya yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan Ka'bah, yang dinamakan Hijir Ismail, yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi Ka'bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya, karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang dimuliakan oleh bangsa Arab saat itu.

Nabi Muhammad ﷺ pernah mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali Ka'bah karena kaumnya baru saja masuk Islam, sebagaiman tertulis dalam sebuah hadits perkataannya: "Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan aku turunkan pintu Ka'bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail ke dalam Ka'bah", sebagaimana fondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.[13]

Ketika masa Abdullah bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibangun kembali menurut perkataan Nabi Muhammad ﷺ, yaitu di atas fondasi Nabi Ibrahim. Namun ketika terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan penguasa daerah Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Ka'bah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka'bah berdasarkan bangunan pada masa Nabi Muhammad ﷺ dan bukan berdasarkan fondasi Nabi Ibrahim. Ka'bah dalam sejarah selanjutnya beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan karena umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali Ka'bah sesuai fondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad ﷺ namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah dia. Sehingga bangunan Ka'bah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.

Terdapat beberapa bagian dalam Ka'bah. Bagian-bagian Ka'bah yang ternama antara lain Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Hajar Aswad dan Rukun (sudut) Ka'bah.

 

Untuk menentukan arah kiblat dengan cukup presisi dapat dilakukan dengan merujuk pada kordinat Bujur / Lintang dari lokasi Ka'bah di Mekkah terhadap masing-masing titik lokasi orientasi dengan menggunakan perangkat GPS. Untuk kebutuhan tersebut dapat digunakan hasil pengukuran kordinat Ka'bah berikut sebagai referensi penentuan arah kiblat. Lokasi Ka'bah adalah 21°25‘21.2“ Lintang Utara, 039°49‘34.1“ Bujur Timur, dan ketinggian 304 meter dpl

Adapun cara sederhana dapat pula dilakukan untuk melakukan penyesuaian arah kiblat. Pada saat-saat tertentu dua kali satu tahun, Matahari tepat berada di atas Mekkah (Ka'bah). Sehingga jika pengamat pada saat tersebut melihat ke Matahari, dan menarik garis lurus dari Matahari memotong ufuk/horizon tegak lurus, pengamat akan mendapatkan posisi tepat arah kiblat tanpa harus melakukan perhitungan sama sekali, asal pengamat tahu kapan tepatnya Matahari berada di atas Mekkah. Tiap tahun, Matahari berada pada posisi tepat di atas Mekkah pada tanggal 28 Mei pukul 16.18 WIB dan tanggal 16 Juli pukul 16.27 WIB.

Bumi berputar pada sumbu rotasinya dengan periode 24 jam. Bagi pengamat yang berada di Bumi, efek yang diamati dari gerak rotasi adalah benda-benda langit terlihat seolah-olah berputar mengelilingi Bumi dengan arah gerak berlawanan dengan arah rotasi Bumi. Bintang-bintang terlihat bergerak dari timur ke barat. Ini mirip dengan gerak pohon-pohon yang diamati saat mengendarai mobil, seolah-olah pohon-pohon itu bergerak berlawanan arah dengan gerak mobil. Efek rotasi ini menyebabkan pengamat mengamati benda-benda langit (termasuk Matahari) terbit di timur dan terbenam di barat.

Sementara itu, Bumi mengedari Matahari dengan periode 1 tahun. Akibatnya, relatif terhadap bintang-bintang pada bola langit, Matahari sendiri terlihat berubah posisinya dari hari ke hari, dan setelah satu tahun, kembali ke posisi semula. Matahari bergerak kurang lebih ke arah timur. Namun karena bidang edar Bumi (ekliptika) tidak sebidang dengan bidang rotasi Bumi (Ekuator langit), maka gerak Matahari tadi pun tidak tepat ke arah timur, tetapi membentuk sudut 23,5º, sesuai dengan besar sudut antara ekliptika dan ekuator langit.

Dari Bumi, pengamat melihat seolah-olah Matahari mengitari Bumi. Pengamat melihat Matahari mengitari Bumi pada bidang ekliptika. Karena Bidang ekliptika membentuk sudut terhadap bidang ekuator Bumi, dalam interval satu tahun itu, Matahari pada satu saat berada di utara ekuator, dan disaat yang lain berada di selatan ekuator. Matahari bisa sampai sejauh 23,5º dari ekuator ke arah utara pada sekitar tanggal 22 Juni. Enam bulan kemudian, sekitar tanggal 22 Desember, Matahari berada 23,5º dari ekuator ke arah selatan. Antara 22 Juni dan 22 Desember, Matahari bergerak ke arah selatan ekuator, bergerak relatif terhadap bintang-bintang. Sedangkan antara tanggal 22 Desember dan 22 Juni, Matahari bergerak ke arah utara ekuator.

Karena gerak tahunannya tersebut dikombinasikan dengan gerak terbit terbenam Matahari akibat rotasi Bumi, maka Matahari menyapu daerah-daerah yang memiliki lintang antara 23,5º LU dan 23,5º LS. Pada daerah-daerah di permukaan Bumi yang memiliki lintang dalam rentang tersebut, Matahari dua kali setahun akan berada kurang lebih tepat di atas kepala. Karena Mekkah memiliki lintang 21º 26' LU, yang berarti berada dalam daerah yang disebutkan di atas, maka dua kali dalam setahun, Matahari akan tepat berada di atas kota Mekkah. Kapan hal ini terjadi, bisa dilihat dalam almanak, misalnya Astronomical Almanac.

Penentuan arah kiblat dengan cara melihat langsung posisi Matahari seperti yang disebutkan di atas (pada tanggal-tanggal tertentu yang disebutkan di atas), tidaklah bisa dilakukan di semua tempat. Sebabnya karena bentuk Bumi yang bundar. Tempat-tempat yang bisa menggunakan cara di atas untuk penentuan arah kiblat adalah tempat-tempat yang terpisah dengan Mekkah kurang dari 90º. Pada tempat-tempat yang terpisah dari Mekkah lebih dari 90º, saat Matahari tepat berada di Mekkah, Matahari (dilihat dari tempat tersebut) telah berada di bawah horizon. Misalnya untuk posisi pengamat di Bandung, saat Matahari tepat di atas Mekkah (tengah hari), dilihat dari Bandung, posisi Matahari sudah cukup rendah, kira-kira 18º di atas horizon. Sedangkan bagi daerah-daerah di Indonesia Timur, saat itu Matahari telah terbenam, sehingga praktis momen itu tidak bisa digunakan di sana. Bagi tempat-tempat yang saat Matahari tepat berada di atas Ka'bah, Matahari telah berada di bawah ufuk/horizon, bisa menunggu 6 bulan kemudian. Pada tiap tanggal 28 November 21.09 UT (29 November 04.09 WIB) dan 16 Januari 21.29 UT (17 Januari 04.29 WIB), Matahari tepat berada di bawah Ka'bah. Artinya, pada saat tersebut, jika pengamat tepat menghadap ke arah Matahari, pengamat tepat membelakangi arah kiblat. Jika pengamat memancangkan tongkat tegak lurus, maka arah jatuh bayangan tepat ke arah kiblat.

  1. ^ a b Wensinck, A. J; Ka`ba. Encyclopaedia of Islam IV p. 317
  2. ^ Al-Azraqi. Akhbar Mecca: History of Mecca. hlm. 262. ISBN 9773411273. 
  3. ^ "In pictures: Hajj pilgrimage". BBC News. 7 December 2008. Diakses tanggal 8 December 2008. 
  4. ^ "As Hajj begins, more changes and challenges in store". 
  5. ^ "Interior Minister Addresses Cable to Custodian of the Two Holy Mosques on Pilgrims". Saudi Arabia Ministry of Foreign Affairs. 10 December 2013. Diakses tanggal 21 August 2014. 
  6. ^ "More than 1.380 million pilgrims arrived". Saudi Arabia Ministry of Foreign Affairs. 2 October 2014. Diakses tanggal 3 October 2014. 
  7. ^ "Kaaba". Online Etymology Dictionary. 
  8. ^ Akhtar, Mohsin (2008). Oracle of the Last and Final Message. hlm. 353. 
  9. ^ Akhter, Muhammad Wajid (November 15, 2012). "Ten Things You Didn't Know About The Kaaba". muslimmatters.org. 
  10. ^ Sahih Bukhari. Book 54, Hadith 429. 
  11. ^ asy-Sya'rawi, M. Mutawalli (2007). Basyarahil, U., dan Legita, I. R., ed. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan oleh al-Mansur, Abu Abdillah. Jakarta: Gema Insani. ISBN 978-602-250-866-3.  Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
  12. ^ Awaludin, M., dan Almuhtadi, A. S. (2020). Bemi Sado, Arino, ed. Arah Kiblat: Dialektika Fiqh, Sains dan Tradisi (PDF). Mataram: Sanabil. hlm. 35. ISBN 978-623-317-068-0.  Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  13. ^ riwayat Bukhari

  • Abrahah
  • Dzu as-Suwayqatayn
  • Eskatologi Islam
  • (Inggris) Qibla locator
  • (Inggris) Ka'bah
  • (Inggris) Kabahinfo.net
  • (Inggris) Qiblat

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ka%27bah&oldid=21108368"


Page 2

1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31  

28 Mei adalah hari ke-148 (hari ke-149 dalam tahun kabisat) dalam kalender Gregorian.

  • 1905 - Perang Rusia-Jepang: Pertempuran Tsushima berakhir dengan kekalahan Rusia.
  • 1918 - Republik Demokratik Azerbaijan diproklamasikan di Ganja setelah pemecahan Republik Federal Demokratik Transkaukasia.
  • 1940 - Perang Dunia II: Belgia menyerah kepada Jerman.
  • 1964 - Organisasi Pembebasan Palestina didirikan.
  • 1968 - Garuda Indonesia Penerbangan 892 jatuh beberapa menit setelah lepas landas dari Bandar Udara Bombay–Santacruz dan menewaskan seluruh 29 penumpang dan awak pesawat serta satu orang di darat.
  • 1993 - Eritrea dan Monako menjadi anggota PBB.
  • 2005 - Bom Meledak di sebuah pasar di Tentena menewaskan 22 orang dan melukai 90 lainnya.
  • 2008 - Nepal berganti sistem pemerintahan dari kerajaan ke republik.
  • 2011 - Helmy Yahya memperoleh rekor MURI sebagai kreator acara kuis terlama di Indonesia, 24 Hour Quiz.
  • 2015 - Malam penganugerahan Panasonic Gobel Awards 2015, dilaksanakan di Grand Ballroom Fairmont Hotel, Jakarta.
  • 1738 - Joseph Ignace Guillotin, seorang warganegara Prancis. Namanya diasosiasikan dengan guillotine sebuah alat eksekusi.
  • 1912 - Herman Johannes, seorang cendekiawan, ilmuwan, dan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), pernah juga menjabat Rektor UGM.
  • 1945 - John Fogerty
  • 1968 - Kylie Minogue
  • 1980 - Mark Feehily anggota grup musik Westlife
  • 1986 - Charles N'Zogbia, pemain sepak bola Prancis
  • 1998 - Kim Dahyun, anggota girl grup Korea Selatan TWICE
  • 1999 - Cameron Boyce
  • 2000 - Ahmad Hanabilah
  • 2001 - Firda Widya D
  • 1974 - Kwee Thiam Tjing, seorang jurnalis keturunan Tionghoa (l. 1900)
  • 2012 - Burhanuddin Soebely, seniman Indonesia asal Kalimantan Selatan (l. 1957)
  • 2014 - Azlan Muhibbuddin Shah,Yang di-Pertuan Agong Malaysia, Sultan perak Malaysia (l. 1928)
  • 2018 - Ola Ullsten Perdana Menteri Swedia (l.1931)
  • 1972 - Waisak 2516 BE.
  • 1981 - Kenaikan Yesus Kristus.
  • 1987 - Kenaikan Yesus Kristus.
  • 1991 - Waisak 2535 BE.
  • 1992 - Kenaikan Yesus Kristus.
  • 2010 - Waisak 2554 BE.
  • 2023 - Pentakosta.
  • Hari Republik (Armenia, Azerbaijan)
  • Hari Burger Sedunia

27 Mei - 28 Mei - 29 Mei

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=28_Mei&oldid=21163035"